One Night Stand

One Night Stand

 

BEAST’s Junhyung | Cube’s Hyuna

a story by ts_sora

Comfort, AU, PG-17

Vignette

.

.

Hyunah menggeliat pelan saat merasakan geli pada tengkuknya. Ia membalikkan tubuhnya sebelum ia lantas tertawa pelan menatap sosok pria yang kini tengah tidur tepat di sampingnya sedangkan sebelah tangannya tengah memeluknya erat—seakan tak ingin lepas darinya.

 

Hyuna mengulurkan tangannya, mengusapkan jemarinya—menyentuh setiap kontur wajah pria itu dengan lembut, membuat sang pria hanya menggeliat pelan. Hyuna lantas tersenyum geli.

 

Pria itu, Yong Junhyung— memiliki kebiasaan buruk dimana ia akan tertidur setelah kegiatan ranjang mereka yang tak terhitung berapa lamanya. Ia akan bangun pagi hari dan menghilang meninggalkan Hyuna sendiri, yang belum sempat mencium pipi pria itu yang akan pergi.

 

Dan kali ini, entah mengapa ia bahkan tak ingin menutup matanya sedikit saja—kehilangan kesempatan untuk menatap Junhyung dalam tidurnya, merasakan lengannya berada di perutnya—memeluknya erat. Seakan pria itulah yang tak ingin ditinggalkan.

 

Mata Hyuna beralih pada sebuah cincin yang kini tengah tersemat pada jari manisnya—dengan pelan, Hyuna melepaskannya dan lantas menyematkannya pada ibu jarinya. Dengan tersenyum samar, ia bangga dengan apa yang baru saja ia lakukan.

 

Suara alarm dari ponsel pria itu kali ini bernyanyi—membuat Junhyung menggeliat hendak bangun, sedangkan Hyuna memaksakan kedua matanya tertutup seakan ia masih terlelap di tidurnya.

 

“Good morning. Early morning.” Hyuna tertawa geli saat Junhyung mencium sudut bibirnya dan membuka matanya—membuat pria itu terkejut.

 

“Aku tidak tahu jika aku akan membangunkanmu dengan mudah,” ujar pria itu yang kini telah duduk bersandar sedangkan Hyuna masih tak mau bergeming di bawah selimutnya. Gadis itu lantas menggeleng pelan.

 

“Tidak. Aku hanya tidak bisa tidur dengan nyenyak,” ujar Hyuna yang pada akhirnya menguap begitu saja. Junhyung kini telah beranjak dari ranjang mereka, demi mengenakan celana kain yang ia tanggalkan beberapa jam yang lalu.

 

“Kau akan pergi? Ini bahkan masih terlalu dini untukmu pulang.” Hyuna kali ini yang menyandarkan tubuhnya—menatap jam dinding yabg menunjukkan pukul 3 dini hari sebelum beralih menatap punggung Junhyung yang kini duduk pada tepi ranjang. Pria itu hanya tertawa pelan.

 

“Acara akan dimulai jam 10 nanti, aku tidak bisa datang terlambat. Apalagi aku tidak pulang semalaman,” ujar pria itu membalikkan tubuhnya sebentar demi menatap Hyuna yang kini hanya mengerucutkan bibirnya kali ini, membuat Junhyung terkekeh pelan karenanya sebelum kali ini ia lantas kembali sibuk mengenakan kemeja miliknya.

 

Hyuna hanya meringis—memainkan cincin yang ada di ibu jarinya. Sesekali ia juga menatap pria itu yang masih memunggunginya sebelum akhirnya ia merangkak demi meraih tubuh pria itu dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu.

 

“Ada apa, hm?” ujar pria itu diselingi kekehannya, Hyuna hanya menggeleng pelan selebihnya ia tak mengatakan apapun.

 

Entah bagaimana mereka bertemu hingga mereka menjalin sebuah hubungan yang bahkan tak dapat mereka artikan dengan jelas. Mereka hanya menghubungi satu sama lain untuk saling bertemu. Tak tentu, hanya saat mereka saling membutuhkan satu sama lain—memuaskan permintaan satu sama lain dan selebihnya mereka tak tentu mengenal satu sama lain. Pria itu hanya tahu bahwa mereka sangat cocok di atas ranjang, dan selebihnya ia bahkan tak peduli apa yang Hyuna sukai atau apa yang gadis itu benci. Meski Hyuna tahu, pria itu mungkin mengenal tiap jengkal tubuhnya—bahkan lebih dari dirinya sendiri.

 

One night stand, setidaknya itu sebutan mereka atas hubungan rumit yang mereka jalani saat ini.

 

“Apa kau mencintainya?” tanya Hyuna kali ini terdengar lemah. Junhyung yang hendak mengenakan sepatu kulitnya, mengurungkan niatnya. Dilihatnya sebentar gadis yang kini melepaskan pelukannya, sebelum tawanya kembali terdengar.

 

“You know what, the way you asked itsounds so silly,” jawabnya begitu singkat dan mereka kembali terdiam.

 

Hyuna ingat saat pria itu mengatakan ia telah dijodohkan dengan seorang gadis yang lebih muda empat tahun darinya. Gadis yang ia yang tak pernah ia cintai. Gadis yang ia bilang memiliki wajah begitu polos. Gadis yang ia bilang akan selalu menunjukkan rona pipinya saat Junhyung tak sengaja menyentuh punggung tangannya. Dan mereka akan menikah hari ini, sama seperti yang pria itu katakan kemarin sore sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu.

 

“Wait—” Junhyung kembali memecah hening. Wajahnya terlihat serius saat ini saat kedua matanya menatap Hyuna yang masih duduk tepat di belakangnya.

 

“Don’t tell me that now you started to love me,” ujarnya kali ini yang sedetik kemudian terkesan menguap saat sekali lagi ia terlihat tersenyum. Seakan apa yang kini Hyuna rasakan adalah sebuah lelucon.

 

Mungkin harusnya Hyuna sadar jika hubungan yang mereka jalani tak lebih dari sebuah hubungan yang menguntungkan satu sama lain. Hubungan yang sama sekali tak jauh dari hubungan yang dilandasi oleh rasa cinta satu sama lain. Dan harusnya Hyuna sadar akan hal itu. Ia harusnya sadar jika perasaannya pada akhirnya tak akan berarti apa-apa.

 

Hyuna menegakkan tubuhnya dan berdiri dengan tumpuan lututnya sebelum dirinya memeluk laki-laki itu dengan manja. “Apa kau akan berhenti menemuiku seperti yang kau lakukan biasanya?” tanyanya sebelum menggelayut manja menatap pria itu yang sekali lagi hanya mengembangkan senyumnya.

 

“Entahlah. Mungkin iya, atau mungkin tidak,” ujarnya begitu santai. Hyuna mengerucutkan bibirnya, berusaha terlihat kesal—meski memang ia tengah merasa kesal.

 

“Kalau begitu—” Hyuna menelusupkan salah satu tangannya ke dalam kemeja pria itu dan membelai lembut dada pria tersebut, sebelum dengan gerakan cukup lambat ia membuat pria itu kembali terjatuh di atas ranjangnya. Hyuna menatapnya dengan seduktif sembari kembali melucuti pakaian pria itu sekali lagi sedangkan Junhyung hanya menyeringai—membiarkan gadis yang tengah berada di atas tubuhnya, melakukan tugasnya.

 

“Kalau begitu tinggallah lebih lama. Aku yakin ia bisa menunggu,” ujar Hyuna dengan penekanan pada akhir kalimat. Junhyung tak menjawab sebelum akhirnya ia menarik tengkuk gadis itu dan membungkam bibirnya untuk kesekian kalinya.

.

 

.

 

.

 

Mungkin ini adalah konsekuensi yang ia dapat karena mengiyakan jenis hubungan yang pria itu tawarkan untuknya dulu. Namun pilihan apa yang dapat ia ambil? Jikapun ia yang mengatakan yang sejujurnya, ia tak tahu jenis reaksi apa yang pria itu akan tunjukkan padanya. Jika memang jenis hubungan ini yang membuat mereka bertemu—ia tak segan menjalaninya hingga ia tak tahu pasti kapan semuanya akan berakhir.

 

.

 

.

 

.

 

“Kau tahu, kukira aku lupa menggunakan pengaman malam ini.”

 

.

 

.

 

.

 

-Fin-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s