Another Bad Day

1485962297953

Another Bad Day

by ts_sora

iKON’s Bobby | OC’s Connie

Friendship

One shoot

.

.

.

Connie mengeratkan mantel miliknya sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya di tengah malam pada pertengahan bulan Januari—dimana salju turun dengan cukup deras, memangkas beberapa derajat suhu malam ini. Connie mengumpat sebelum ia menatap kesal bangunan yang berdiri cukup megah—yang kini berada lumayan jauh di belakangnya. Jangan tanya bagaimana ia berakhir begitu mengenaskan saat ini. Salahkan Hanbin, salah satu teman brengseknya yang seakan menjebloskannya ke dalam kenaifan dirinya.

Oh, atau ini murni kesalahannya?

“Kim Hanbin kau brengsek—oh!” Connie berusaha menjaga keseimbangannya di atas stiletto yang sengaja ia pinjam dari salah satu temannya. Tingginya yang cukup membuat Connie sering mengaduh karena kesakitan adalah salah satu hal yang perlu Connie perlu sesali saat ini.

Atau, ah—semua begitu ia sesali saat ini.

Semua cerita bermula pada sebuah pesta prom night yang akan digelar satu malam suntuk kampusnya. Dan demi Tuhan, Connie sudah tidak ingin berangkat. Ia tak suka mengenakan sebuah gaun malam yang begitu diidolakan para gadis kampusnya. Ia juga tak suka dengan sepatu-sepatu cantik berhak—dan salah satunya adalah stiletto. Namun, kiranya Hanbin datang dan menawarkan sebuah penawaran gila.

Ia bilang, salah seorang temannya, Song Mino—membutuh seorang teman kencan. Katanya Song Mino baru saja putus dari kekasihnya yang ia kencani dua tahun terakhir. Katanya ia mencari seorang teman kencan satu malam saja. Connie sudah menolaknya! Sungguh!

Namun bodohnya Connie lantas tergagu di tempatnya saat laki-laki bermarga Song itu secara pribadi datang ke apartemennya. Dengan bodohnya Connie terpesona dengan sepasang iris hitam legam yang menatapnya dengan begitu intens kala itu—hingga ia mengangguk dengan begitu bodoh, mengiyakan ajakan tolol yang pernah ditawarkan padanya.

Jadilah Connie meminjam sebuah gaun malam yang tak pernah ia bayangkan melekat pada tubuhnya. Jadilah ia meminjam sebuah stiletto yang cukup tinggi untuk ukuran dirinya—pada salah satu temannya. Dengan harapan ia akan menjadi begitu cantik di hadapan Mino.

Awal sebelum ia berangkat, ia begitu bangga akan dirinya di cermin sore tadi. Melenggang bagai seorang princess di hadapan Bobby—pria yang terjebak tinggal satu atap dengannya. Tentu saja Bobby kagum, setidaknya itu yang Connie pikirkan beberapa jam yang lalu. Atau mungkin Bobby berniat mengajaknya untuk kencan setelah ia melihat dirinya dengan sebuah gaun malam. Namun bukan itu.

“Kau tahu seberapa brengsek Hanbin dan kau baru saja percaya dengan salah seorang temannya?”

.

.

.

“Ah!” Connie tersungkur ke tanah saat entah mengapa stiletto yang ia kenakan sama brengseknya dengan Hanbin. Connie menatap kesal stiletto yang ia gunakan patah dengan begitu menyedihkan—sama seperti dirinya.

Belum lama berlangsung prom night yang digelar, Song Mino berjanji akan kembali setelah ia mengambilkan minuman untuk mereka berdua, tak pernah kembali. Singkat kata, Connie ditinggalkan. Dengan begitu menyedihkan.

“Bodoh, Connie. Kau bodoh.” Connie mengusap asal air matanya yang jatuh begitu saja. Meskipun ia berusaha untuk tak peduli, datang dengan begitu bangga dan berakhir dengan mengenaskan bukanlah hal yang bisa ia banggakan. Tersungkur ke tanah dengan stiletto patah, adakah hal yang lebih buruk dari ini?

“Sedang apa kau duduk di atas aspal dingin?”

Connie menghirup hidungnya yang berair dan mengusap sisa air mata juga ingusnya kasar. Udara berkabut nampaknya membuat dirinya tak bisa menatap pria yang berjalan ke arahnya.

Bobby kini berdiri di hadapannya dengan mantel yang hampir menutupi keseluruhan wajahnya. Connie menghapus air matanya dan dilihatnya Bobby yang kini menurunkan mantel yang menutupi wajahnya. Ia menyeringai.

“Aku menunggumu dari tadi. Kenapa kau begitu lama huh?” ujarnya bosan. Connie menatapnya bingung.

“Kenapa kau harus menungguku?” tanya gadis itu yang masih terduduk di tempatnya. Bobby menatap sekelilingnya, mencoba memikirkan jawaban namun ia lantas mendengus.

“Ayo berdiri. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

Connie mengerucutkan bibirnya kesal. “Aku tidak memintamu untuk menungguku,” ujarnya yang masih tak mau beranjak. “Lagipula, aku tidak bisa berjalan. Stiletto-nya patah dan kakiku membeku,” lanjutnya. Bobby lantas menatap sepasang stiletto patah tersebut kemudian beralih pada kaki Connie yang bengkak.

Bobby membuang napasnya pasrah sebelum ia akhirnya membantu gadis itu untuk berdiri dan membersihkan beberapa kotoran pada mantelnya. Bobby lalu berdiri membelakangi gadis itu sebelum ia lantas berjongkok memberikan punggungnya.

“Naiklah,” ujarnya singkat sedangkan Connie masih menatapnya bingung.

“Kubilang naik. Aku tidak ingin membeku dengan konyol di sini,” lanjutnya yang membuat Connie ingin melemparkan sepasang stiletto yang berada di tangannya ke kepala pria itu. Dengan berat hati, Connie lantas menaiki punggung Bobby sebelum akhirnya pria itu akhirnya berdiri dengan Connie di punggungnya.

Mereka terdiam cukup lama saat Bobby hanya terfokus pada gendongannya sedangkan Connie sibuk dengan pikirannya yang melayang. Bukan, bukan tentang dirinya yang dicampakkan—namun tentang Bobby yang tiba-tiba datang menjemputnya.

“Kubilang Hanbin itu brengsek dan kau mempercayai temannya? Bodoh,” ujarnya dengan terkekeh pelan sedangkan Connie hanya mendengus mendengarnya.

“Katakan padaku apa kau memukul Hanbin dan temannya itu? Hingga mereka terjatuh?” Connie terdiam. Bodohnya ia tak melakukan itu tadi. Yang begitu ia ingat adalah saat ia menemukan Mino yang tengah berbicara serius dengan seorang gadis yang katanya mantan kekasihnya. Lalu gadis itu melihatnya dengan penuh amarah. Tak jelas mengapa, hingga saat Connie tersungkur saat gadis itu mendorongnya, Connie bahkan tak melakukan apa-apa.

Harusnya ia tahu, Mino menrencanakan ini semua. Harusnya ia tahu—bahwa semua ini adalah usaha Mino agar gadisnya kembali ke pelukannya, dengan membuatnya cemburu.

“Jangan katakan kalau kau kalah,” ucap Bobby sebelum akhirnya ia mengaduh saat Connie memukul keras kepalanya.

“Aku hanya tidak sempat membalasnya. Stiletto bodoh ini, tidak berpihak padaku. Jadi aku terjatuh saat gadis itu mendorongku. Itu saja,” ujar gadis itu menjelaskan. Singkat kata, benar, ia kalah.

“You know what.”

Hm?”

“You don’t have to be someone else to make someone likes you,” ujar Bobby yang kali ini membuat Connie memikirkan banyak hal di kepalanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia mengeluarkannya cukup panjang. Cukup menyadarkan betapa bodohnya dirinya hari ini. Menyadarkan bahwa memang menjadi orang lain, adalah usaha yang sia-sia.

Mungkin kini ia harus berhati-hati. Berhati-hati untuk tidak dengan mudah mempercayai orang lain. Termasuk Kim Hanbin—pria brengsek yang telah menipunya dua kali.

Ah dan juga temannya itu.

.

.

.

“Bobby?”

What?”

“Jika kau bilang aku bodoh karena mempercayai teman Hanbin, haruskah aku tidak mendengarkanmu?”

.

.

“Kau lupa? Kau teman Hanbin, berarti kau sama brengseknya dengan dia.”

.

.

.

“Ah shit—terserah kau sajalah.”

—Connie tertawa lepas dan dalam seketika ia melupakan kejadian memalukan yang ia alami.

.

.

At least, she knows there’s someone who won’t break her heart-tonight.

.

.

Fin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s