[Journal] It’s Okay for Being Envious

Envious.

Pernahkah kalian sekali saja merasa iri dengan kehidupan yang orang lain jalani? Atau pernahkah kalian berpikir mengapa mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dari kita? Atau pernahkah kau merasa Tuhan tak menyayangi kita sebagaimana Ia menyayangi mereka?

Sungguh, kau tidak sendiri kawan. Karena aku juga pernah merasakan yang sama. Atau mungkin bisa kau sebut, aku masih sering merasakannya. Tidak perlu kau merasa sungkan untuk mengungkapkannya—because it’s human being.

Ada orang yang harus menempuh pendidikannya hingga mendapatkan gelar Doktor dan Profesor, namun tak sedikit pula orang yang hanya menempuh pendidikan mereka sampai SMA. Bahkan ada yang hanya sampai Sekolah Dasar. Ada pula orang yang bekerja bertahun-tahun lamanya, namun pangkatnya tak berubah. Ada pula yang bekerja pada waktu yang cukup singkat dan ia berhasil dikatakan sebagai seseorang yang sukses di masa mudanya. Ada juga seseorang yang menempuh pendidikannya hingga Sarjana namun sampai saat ini, ia tak mendapatkan pekerjaan yang layak. Ada juga yang menempuh pendidikan hanya sampai SMA namun kini ia bisa disebut cukup sukses dengan pekerjaannya.

Ya, salah satu di antaranya tengah terjadi padaku.

Mungkin masih begitu awal, bahkan sangat awal untuk menyebut diriku iri dengan kehidupan orang lain. Tidak, aku tak pernah mengeluh dengan keluargaku namun aku setidaknya pernah mengeluh dengan diriku sendiri. Butuh perjuangan dimana aku harus mendapatkan gelar Sarjana. Hal yang bahkan dapat kukatakan begitu jauh dari genggamanku. Kami butuh bekerja keras untuk aku mendapatkan gelar Sarjana, karena keluarga kami yang tak dapat dikatakan hidup berkecukupan. Dan kini, aku berhasil mendapatkannya.

Kukira dengan mendapatkan gelar Sarjana dengan nilai yang cukup memuaskan kala itu, aku tak perlu merasa cemas dengan pekerjaan yang kudapatkan nanti. Jadilah saat itu aku cepat-cepat mendaftarkan diri pada sebuah perusahaan pemerintah dan mengikuti segala macam ujian di sana. Semua berjalan lancar, maksudku semua ujian dapat aku lalui dengan mudahnya hingga saat sebuah ujian psikologi yana seakan menghentikan langkahku saat itu. Benar, aku gagal.

Namun bukan hanya itu saja yang kiranya aku masih santar eluhkan, yaitu diriku yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan hingga aku menghabiskan satu tahun hidupku sebagai seorang pengangguran. Menghabiskan hampir keseluruhan uang tabunganku untuk mondar-mandir mencari pekerjaan. Yang sungguh aku sudah merasakan bahwa semua tak berjalan dengan mulus. Baru saat itu aku paham bahwa mencari pekerjaan bukanlah sebuah urusan yang mudah.

Berulang kali aku berusaha membesarkan hati, bahwa mugkin masih belum saatnya. Namun kau tak bisa mengelak saat beberapa temanmu juga keluargamu menanyakan kabar pekerjaan yang kita dapat. Atau mungkin Ayah juga Ibumu yang sudah khawatir dengan keadaanmu. Dan saat itulah, rasanya hidupku terasa berat.

Aku malu, bahkan begitu malu dengan diriku sendiri. Mulailah satu persatu pertanyaan yang mampir di benakku. Apakah aku memang selamanya tak akan mendapatkan sebuah pekerjaan? Dan sebenarnya ada apa denganku? Mengapa aku seperti ini? Mengapa mereka tidak memilihku? Dan mengapa aku harus kalah bahkan sebelum berperang? Apakah ini jalan hidupku?

Saat itu sesuatu tengah terjadi, hingga membuatku harus mendapatkan pekerjaan dengan segera. Sungguh, aku tak pernah memilah-milah jenis pekerjaan apa yang akan aku kerjakan. Atau jarak tempat dimana aku bekerja dengan rumahku maupun besar uang yang nanti aku dapatkan dari hasil keringatku nanti. Dan pada akhirnya satu dari sekian doaku yang kupanjatkan, terjawab sudah—aku diterima bekerja pada sebuah perusahaan swasta.

Kiranya apa aku sudah bisa bernapas lega saat ini. Aku terus bersyukur dengan apa yang aku dapat saat ini. Setidaknya kini aku sudah sedikit membantu kehidupan keluarga kami menjadi sedikit lebih baik. Pada saat itu aku merasa aku tak perlu merasa rendah diri di hadapan orang lain, namun kiranya aku baru menyadari bahwa cobaan yang kuhadapi tidak berhenti di situ saja.

Sebut saja aku tidak pernah merasa puas dengan apa yang aku dapatkan. Atau mungkin sebagian di antaranya, berpikir bahwa aku tak pernah bersyukur dengan apa yang aku dapatkan saat ini. Dengan tegas aku menyatakan, ya, terkadang aku merasa seperti itu. Perasaan yang mungkin hampir semua orang tengah rasakan saat ini. Dan aku yakin semua pasti merasakannya.

Aku bertemu dengan berbagai jenis orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada mereka yang kini telah mendapatkan pekerjaan yang dikatakan sangat baik di umurnya yang terbilang muda. Ada pula mereka yang seumuran denganku namun memiliki banyak pengalaman yang bisa ia tunjukkan pada orang lain. Sungguh, terkadang aku merasa begitu iri.

Namun aku kini sadar bahwa rasa iri yang aku punya ini toh tidak ada artinya jika aku tak melakukan apa-apa. Rasa iri ini toh akan tidak pernah ada habisnya jika kita selalu merasa di bawah dan terus memandang ke atas. Maksudku, tidak ada yang melarang kita untuk melihat ke atas, namun jika kita tak melakukan apapun, tak akan mengubah apapun.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan;

Moon and Sun have their time to shine.

Bulan dan matahari memuliki waktunya untuk memancarkan sinar mereka. Matahari yang bersinar di siang hari, begitu pula bulan yang bersinar di malam hari. Sama halnya dengan semua orang. Mereka memiliki waktunya untuk menunjukkan sinarnya. Entah ada yang saat ini ataupun esok hari atau mungkin entah kapan.

Hal yang membuatku yakin adalah, ya, mungkin masih belum saatnya aku menunjukkan bahwa, ya, ini aku. Ini aku yang berdiri tegak dengan kerja keras yang telah aku lakukan. Membuat mereka—siapa saja yang dekat denganku—bangga saat mereka menyebut namaku.

Jadi biarkan aku untuk melihat ke atas, menyiapkan seberapa kuat mental yang kupunya demi kerja keras yang akan kulakukan hari ini, esok dan seterusnya. Akan kutunjukkan bahwa ya, aku bisa. Biarkan rasa iri yang sempat aku miliki, yang terkadang membuat semua orang geli mendengarnya, sebagai pacuan langkahku.

Toh, selama aku bekerja keras dan terus berdoa, Tuhan dengan pasti akan melancarkan segala sesuatunya.

Dan maafkan aku yang selalu berprasangka buruk pada-Mu. Mulai sekarang, aku akan bekerja keras.

.

.

January 22, 2018.

06:00

Anonymous.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s