[Journal] Kamu dan Stigma tentang Cinta

The story was randomize, was came out from one of my friends.

Hey, kamu yang ada di sana. Malam ini, tak sengaja sekilat memori melesat begitu cepat di benakku—tak sengaja mengucap nama yang sudah lama tak kusebut, yaitu kamu. Hey, kamu, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Apa kamu bahagia?

Jika kamu bahagia, aku begitu senang mendengarnya. Namun jika tidak, apakah dahulu kamu pernah bahagia saat kamu masih menggenggam tanganku kala itu?

Ini sudah lama, bahkan terlampau lama. Harusnya aku yang bisa merelakan satu persatu memori untuk menguap begitu saja, namun andai aku bisa. Dan kamu yang di sana—yang mungkin kali ini tengah terlelap dalam tidurmu tanpa sedikit pun teringatkan oleh eksistensiku, aku akan sedikit mengulas cerita. Cerita yang mungkin terlalu sentimentil. Cerita yang sengaja kutuliskan, tanpa perlu kamu mengerti.

Sungguh, aku tak memaksamu untuk mengerti. Atau memang kamu tak pernah sedikit pun mengerti.

Rasanya seperti baru kemarin. Ah, tidak, atau seperti tadi malam, saat kita terjaga bersama dan mengumbar masa jaya kita bersama dengan begitu lepas. Sepertinya masih tadi pagi kamu mengatakan, “Hati-hati di jalan” dan “Jangan lupa sarapan”, agar aku bisa memulai hari. Meski harus kutahu kini, semuanya tak akan pernah terjadi lagi.

Hey, maaf, aku mengumbar semua. Jangan membenciku karena tanpa ijin mempersilahkan titik demi setitik memori tentang kita dahulu tersebut. Salahkan memori itu yang dengan sialan, datang tanpa permisi—membuatku termangu begitu saja. Salahkan dirinya.

Atau, kamu bisa menyalahkan dirimu, sendiri.

Salahkan dirimu yang dahulu dengan berani menyentuh jemariku, menggenggamku lembut. Salahkan dirimu yang terlalu baik hingga aku sendiri tak bisa menyebut kebaikanmu kala itu. Salahkan dirimu yang perlahan namun pasti, mengukir tiap memori yang tak pernah bisa sedikit pun mengelupas dari benakku. Dan salahkan dirimu, yang perlahan namun pasti, membuatku sadar atas arti degupan kencang tiap kali aku mengingat namamu.

Cinta.

Aku menyebutnya cinta. Cinta yang sebenarnya bagiku begitu tabu. Hingga aku tahu bahwa gadis kaku sepertiku, juga layak merasakannya.

Aku merasa malam ini, diriku ditarik pada tepatnya dua tahun yang lalu saat pertama kali kamu menyebutnya. Jika kamu tanya apa aku ingat semuanya, maka jawabannya, ya, aku bahkan mengingat semuanya. Hari, Bulan, musim yang mengiringi langkah kita untuk mengawali cerita—bahkan aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasanya saat pertama kali mulutmu berucap saat itu. Ya, aku mengingatnya. Sangat jelas.

Saat itu, tiap menit bersamamu, tiap sentuhan jarimu yang terkadang tak sengaja menyentuh jemariku, tawamu, senyummu—membuatku begitu yakin bahwa kau mungkin adalah yang terakhir. Membuatku yakin bahwa Tuhan mungkin telah menggariskan hidupku untuk bersamamu, saat itu. Terdengar konyol? Memang, namun itulah yang sempat terbesit di benakku.

Hingga menginjak pada tahun kedua, kiranya keyakinanku masih utuh meski waktu mulai berkhianat dan seakan tak bersahabat. Saat dimana pertengkaran kecil mulai meletup, namun aku masih bisa memahami keadaan. Sama halnya denganmu, aku menunggu waktu untuk kembali bersahabat. Perlahan namun pasti, kukira letupan yang terjadi dan keraguan yang mulai terjadi di dalam dirimu—sudah berhasil menyirnakan apa yang kamu rasakan selama dua tahun ini. Kita berpisah. Kamu benar-benar mengakhiri apa yang telah kamu mulai sebelumnya.

Cinta.

Aku tak pernah mengerti tentang cinta. Cinta seakan dengan mudah datang—membuatmu melayang tinggi hingga kamu lupa daratan. Namun dalam sekejap cinta juga dapat membuatmu terjatuh pada jurang tak berujung.

Apa kamu juga merasakan cinta saat kita bersama dulu? Masihkah ada cinta tersisa meski hanya secuil?

Sungguh, setidaknya dahulu, aku pernah bahagia denganmu. Aku bahagia saat menghabiskan tiap menit waktuku denganmu. Aku bahagia meski kusebut hanya sebentar, namun aku bisa merasakan kalau kau juga pernah memiliki “cinta” dan itu untukku.

Apa aku terdengar berlebihan? Tidak. Kamu hanya tidak mengerti. Atau mungkin kamu tidak akan pernah bisa memahami.

Terjebak dalam memori yang seakan hampir setiap saat dengan lancangnya mengurungku. Tidak, aku tidak merindukanmu. Aku hanya merindukan saat-saat kita dahulu. Jika itu diperbolehkan.

Cinta.

Aku tak pernah paham. Meski aku berusaha untuk memahami. Mereka bilang cinta memiliki beribu bahasa yang bahkan tak ada yang mampu memahaminya, jadi rasakanlah!

Jika aku harus merasakannya, haruskah aku mengingat rasa saat degup jantungku membuncah kala kita bertemu? Ataukah saat kau mengucap cinta? Atau bahkan saat aku mendengar kamu pada akhirnya menyerah oleh waktu?

Aku tak paham. Aku sama sekali tak paham. Jika kini diriku yang duduk termangu sedangkan pikiranku melayang entah kemana untuk mengumpulkan serpih demi serpihan memori saat kita bersama adalah sebuah cinta, lalu jenis cinta apa yang kumiliki?

Cinta.

Bahkan cinta yang kini berhasil menamparku dengan keras bahwa dirinya—tak selalu membawa kabar baik. Buktinya aku yang terluka karenanya. Hingga saat ini pun aku tak yakin mampukah aku kembali berjalan? Mampukah aku untuk memulai lembar yang baru? Yang bahkan jika aku mulai—mungkin akan berakhir sama.

Benar, aku masih di sini. Terperangkap dalam memori yang ingin kusimpan sendiri. Berusaha melindungi diri akan cinta tak kembali menyakitiku.

Sekali lagi aku sampaikan, jangan salahkan aku. Salahkan mereka—memori yang seakan perlahan namun pasti menikamku.

Dan kamu, yang mungkin masih terlelap dalam tidur. Apakah pernah itu terjadi padamu walau hanya sedetik?

Jika iya, apa namaku pernah terbesit di benakmu meski sebentar saja?

.

January 25, 2018

01:40

Anonymous.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s