Words Hidden Away

Words Hidden Away

Day6’s Sungjin | OC’s Arai Yuzuru

a story by ts_sora

fluff, Slice of Life

Teen

one shoot
.

.

.

We had everything to say to each other, but no ways to say it.”
Jonathan Safran Foer
.

.

.

“Kau yakin akan menukar sepeda barumu?”

Sungjin terlihat berpikir sejenak sebelum menatap sepeda baru miliknya dengan menyesal. Haruskah ia?

Namun sedetik kemudian ia terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tidak, batinnya. Ia sudah bertekad untuk menukar sepeda yang baru ia beli seminggu yang lalu dengan sepeda lain. Ya, sejak saat itu.

Sejak Yuzuru menggilai sebuah drama asal tanah kelahirannya, Jepang—dimana sepasang kekasih terlihat bermesraan hanya dengan sebuah sepeda. Sejak Yuzuru bilang itu terlihat begitu romantis. Sejak gadis itu bilang ia juga ingin dibonceng seperti itu.

“Baiklah, kalau begitu. Lalu kau ingin menukar sepedamu dengan sepeda yang mana? Kau hanya bisa menukarnya dengan sepeda yang senilai,” ujar pria setengah baya itu yang dibalas anggukan Sungjin. Ia terlihat mengedarkan pandangannya pada beberapa sepeda yang terpajang di dalam toko sebelum akhirnya ia menarik kedua ujung bibirnya saat sebuah sepeda menarik atensinya.

“Yang itu,” ujarnya bangga, menunjuk pada sebuah sepeda biru lengkap dengan sebuah boncengan juga keranjang—yang tentu saja terlihat feminine. Pria paruh baya itu menaikkan alisnya tak percaya namun akhirnya ia merelakan sepeda tersebut saat Sungjin membawanya keluar. Untung saja, harganya tak beda jauh. Sungjin juga merelakan uang lebihnya hilang karena harga sepeda miliknya saat itu lebih mahal dari sepeda yang kini ia bawa pergi.

Padahal butuh bertahun-tahun lamanya untuk dirinya mengumpulkan uang demi membeli sepeda tersebut. Tapi ah, sudahlah. Tidak apa-apa, yang penting Yuzuru senang, batinnya.

Entah sejak kapan ia begitu peduli dengan apa yang dikatakan Yuzuru. Bahkan kini, ia telah berani menukar sepeda kesayangannya hanya untuk memuaskan Yuzuru. Ah, awas saja bila gadis tidak menyukai apa yang baru saja dilakukannya.

Sungjin menatap jarum jam pada arlojinya. Ia tersenyum, sebuah ide lantas terlintas di benaknya. Haruskah ia menjemput Yuzuru dari kampusnya?

Sungjin meraih ponselnya, hendak menelepon Yuzuru, namun ia lantas mengurungkannya. Ah, mungkin lebih baik ia memberi kejutan untuknya?

Dengan senyum jahil yang terpampang jelas di wajahnya, Sungjin meletakkan kembali ponselnya sebelum mengayuh sepeda menuju kampus Yuzuru dengan begitu bersemangat.

Sungjin mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya tidak sabar. Ia beberapa kali beranjak dari bangkunya dan memastikan apa sosok gadis itu berjalan keluar dari kampusnya. Namun tetap saja, kiranya gadis itu belum menyelesaikan kelasnya.

Sungjin memang datang terlalu awal. Ia memang sengaja melakukannya ia bahkan telah memarkirkan sepedanya jauh dari dimana ia berada saat ini, berharap Yuzuru akan terkejut dengan kejutan yang ia telah persiapkan.

Dan itu dia!

Yuzuru baru saja melangkahkan keluar dengan wajah tertunduk. Sungjin yang mengetahui hal itu lantas beranjak dari bangkunya dan berdiri pada jalur yang akan Yuzuru lewati, berharap gadis itu akan terkejut dengan kehadirannya.

Namun salah dugaannya. Gadis yang terlihat begitu kesal tersebut, hanya mengangkat wajah saat Sungjin berdiri di hadapannya dengan senyum terbaik yang ia miliki, tanpa ada niat membalas. Namun Sungjin tak keberatan akan hal itu.

Ya, ada apa dengan wajahmu?” Sungjin mengulurkan tangannya, mengacak rambut gadis di hadapannya gemas, namun Yuzuru lantas mengerang.

“Aku sedang tidak ingin diganggu!” protesnya yang lantas membuat Sungjin terbahak.

Sungjin meraih salah satu tangan gadis di hadapannya dan menariknya lembut. Ia tersenyum sebelum berkata,

“Ayo, ikut aku!”

“Sudah kubilang, kau harus berhenti merokok sebelum kanker menggerogoti paru-parumu.”

Yuzuru mendesah kecil saat Sungjin dengan sigap menarik batangan yang baru ia nyalakan beberapa menit yang lalu. Menginjak-nginjaknya hingga batangan tersebut hancur tanpa bentuk.

“Satu batang saja, tak akan membunuhku, bodoh,” ujar Yuzuru masih tak terima. Namun Sungjin tak peduli akan hal itu. Ia hanya tersenyum tipis sebelum duduk tepat di samping gadis itu dan menghelan napasnya cukup panjang.

Beberapa menit yang lalu, Sungjin membawanya entah kemana. Mungkin karena Yuzuru masih belum mengenal setiap jengkal kota Seoul, atau mungkin sedari tadi ia masih terpaku untuk memikirkan hari yang membuatnya begitu kesal—hingga ia tak menyadari dimana kali ini mereka berada. Sebuah pantai kiranya, namun ini pertama kali Yuzuru berada di sana. Maka ia tak tahu jelas apa namanya. Mereka tidak benar-benar masuk ke dalam pantai, hanya duduk pada pinggiran pantai dan membiarkan baju keduanya kotor karena bersentuhan langsung dengan pasir pantai.

“Ini,” tawar laki-laki itu mengarahkan satu cup ramen yang beberapa menit ia seduh dari minimarket di seberang jalan. Yuzuru yang masih kesal lantas meraihnya tanpa banyak berbicara, membuat Sungjin terkekeh pelan dibuatnya.

Hari ini, hari pertama gadis itu masuk pada awal musim semi setelah sekian lama ia menikmati libur musim dingin yang cukup panjang. Namun berbeda dengan Sungjin yang begitu menikmati hari, Yuzuru terlihat begitu kesal saat ia berjalan keluar dari kampusnya. Yuzuru itu memang aneh, saat semua menyambut baik musim semi, ia malah seakan tak bisa berkawan dengan musim yang satu ini.

“Masih merasa kesal?” tanya laki-laki itu. Yuzuru menganggukkan kepalanya singkat sebelum ia menelan kunyahan ramennya.

“Jelas ini hari pertama kali masuk, dan Mr. Kim sudah menghukumku.”

“Itu karena kau tidur saat kelas dimulai, bodoh,” ujar Sungjin yang menyentil dahi gadis itu cukup keras yang membuatnya mengaduh meski sedetik kemudian ia lantas terkekeh dan membalas Sungjin dengan beberapa pukulan-pukulan kecil dari tangan mungilnya. Dan untuk kesekian kalinya, Sungjin berhasil membuat Yuzuru tersenyum.

Entah sejak kapan mereka begitu dekat. Padahal jelas ia sangat membenci Yuzuru melebihi apapun. Ia tak suka saat Yuzura datang ke dorm seakan ia memang tinggal di sana. Ia tak suka saat Yuzuru memakai ranjangnya dan meninggalkan liur di bantal kesayangannya. Ia sangat membencinya. Sangat.

Namun kini…

Sungjin tersenyum saat gadis itu menghirup ramennya dengan begitu bersemangat hingga meninggalkan suara yang begitu menjijikkan—meninggalkan noda kuah kemerahan di bibirnya. Mungkin untuk beberapa orang, mereka akan begitu membenci tingkah seenak jidatnya gadis itu. Ia juga, tapi itu dahulu. Dahulu saat ia tidak tahu menahu siapa gadis itu sebenarnya. Saat ia tidak tahu bahwa gadis itu meninggalkan masa lalunya yang kelam di belakangnya. Tingkah seenaknya ia, juga kebiasaan merokok yang ia miliki—kiranya hanya itu yang tak bisa ia tinggalkan.

“Kau serius menukar sepeda barumu dengan itu?”

Yuzuru memecah lamunan laki-laki di sampingnya tersebut, mengayunkan telunjuknya pada sebuah sepeda bewarna biru lengkap dengan boncengan juga keranjang di depannya. Ya, sebuah sepeda yang selalu digunakan para gadis. Yuzuru tertawa sekencang-kencangnya, membuat Sungjin ingin menjitak kepalanya.

Bagaimana ia tahu? Bahkan Sungjin sama sekali tak menyinggung soal sepeda yang sengaja ia tukar tadi.

“I-itu bukan milikku. Sepeda milikku dipinjam oleh Wonpil. D-dan itu milik ibu Wonpil,” kilah Sungjin menjelaskan namun Yuzuru masih tak ingin menghentikan tawanya. Sungjin yang kini kesal lantas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sepedanya hendak pergi.

Nah, terkadang Sungjin terlihat seperti seorang gadis. Setidaknya opini itu yang melekat pada benak Yuzuru sejak pertama kali ia bertemu dengan Sungjin. Sungjin itu mudah marah, bahkan untuk hal-hal kecil. Yuzuru memang sering meninggalkan liur di atas bantal kesayangan laki-laki itu dan hal tersebut sering membuatnya geram, bukankah itu hanyalah sebuah masalah yang kecil?

Hey, kau ingin meninggalkanku? Kau bahkan tidak memakan ramen milikmu. Ini buatku saja ya? Sungjin!”

Yuzuru cepat-cepat beranjak, membersihkan roknya yang kotor karena pasir dan berlari menuju Sungjin dengan cup ramen milik laki-laki itu. Yuzuru mengerucutkan bibirnya kesal menatap Sungjin yang kini duduk di atas sepeda, hendak pergi.

“Naiklah,” ujar laki-laki itu begitu singkat. Yuzuru akhirnya menurut saja dan duduk pada boncengan sepeda, sedangkan laki-laki itu mengayuh sepedanya tanpa bersuara. Laki-laki itu benar-benar kesal. Ah, padahal tadi Yuzuru hanya menggodanya sebentar. Toh, ia juga tidak tahu jika Sungjin benar-benar menukar sepedanya atau tidak.

“Masih marah?” Yuzuru menengok demi melihat wajah Sungjin yang masih terfokus untuk melihat ke arah depan. Laki-laki itu tak menyahut.

“Kau tidak akan menurunkanku begitu saja kan hanya karena ini?” tanyanya sekali lagi, namun laki-laki itu masih mendiamkannya. Yuzuru akhirnya bungkam karena merasa bersalah, sedangkan laki-laki itu tertawa yang lantas membuat Yuzuru menatapnya bingung.

“Bodoh, tentu saja tidak,” ujar laki-laki itu yang akhirnya menjawab. Yuzuru merasa lega kali ini.

“Kau ingat dengan drama Jepang yang kau tonton dengan Wonpil di dorm?”

“Iya. Lalu?”

“Bukankah kau ingin dibonceng seperti sepasang kekasih di sana?” tanya laki-laki itu sekali lagi. Kali ini giliran Yuzuru terdiam. Ia menatap punggung Sungjin yang ada di hadapannya.

“Kau benar, aku menukar sepeda baruku tadi. Jadi aku bisa menjemputmu tiap kau pulang kuliah.”

Yuzuru terkejut mendengarnya. Namun ia memilih untuk diam, sedangkan kedua pipinya bersemu merah kali ini. Sungjin melakukannya untuknya? Bahkan ia tahu pasti bahwa Sungjin begitu menyayangi sepeda barunya. Ia bahkan memaki siapapun yang berani menaiki sepeda barunya dan kali ini laki-laki itu menukarnya? Untuknya?

Sungjin yang ia kenal adalah Sungjin yang menyebalkan. Sungjin yang ia kenal adalah Sungjin yang suka memarahinya. Sungjin yang ia kenal adalah Sungjin yang bahkan selalu bertengkar dengannya saat mereka bertemu. Namun kiranya apa yang ia pikirkan salah besar.

Sungjin bukanlah orang menyebalkan. Laki-laki itu adalah laki-laki yang baik, bahkan ia peduli dengan sekitarnya. Laki-laki yang bahkan begitu perhatian terhadap siapapun—padanya juga. Laki-laki yang siap untuk menghiburnya saat ia kesal. Namun ia tak mengira, ia berani untuk kehilangan sepedanya hanya untuknya.

“Yuzuru, pegangan!”

.

.

.

Sepeda mereka baru saja melewati sebuah lubang, membuat cup ramen di tangan Yuzuru terjun dan terjatuh ke jalan begitu saja dari tangannya yang lengah—meninggalkan kuah kemerahan yang dengan indah menghiasi pakaiannya.

“Sungjin, pakaianku!” rengek gadis itu berusaha menghilangkan noda di pakaiannya yang membuatnya tanpa sadar bergerak ke segala arah.

“Yuzuru, jangan bergerak-gerak!”

“Yuzuru—”

Terlambat. Sepeda mereka kehilangan keseimbangan hingga membuat keduanya terpental begitu saja. Sungjin yang merasakan kesakitan pada punggungnya karena mencium aspal hanya dapat merintih, namun ia lantas terdiam saat entah sejak kapan Yuzuru kini berada di atas tubuhnya. Yuzuru yang juga tersadar lantas terdiam.

Sungjin menahan napasnya saat ia dapat melihat begitu jelas wajah mungil gadis itu. Lengkung bibirnya yang indah juga matanya yang bulat—yang bahkan tanpa sadar begitu ia rindukan saat ia tak bertemu dengan gadis itu.

Oh Tuhan, ia berharap Yuzuru tak dapat mendengar suara degup jantungnya yang selalu bergetar saat gadis itu berada sedekat ini dengannya.

“Yuzuru, a-aku—” Sungjin menarik napasnya berusaha mengumpulkan keberaniannya. Oh ayolah, mengapa begitu sulit untuknya mengatakan bahwa ia menyukai gadis itu. Entah sejak kapan ia memiliki perasaan semacam ini terhadap gadis itu, yang bahkan tak pernah ia sadari sebelumnya. Namun saat ini, ia tak bisa menahannya sendiri kembali.

“A-aku—”

Sungjin menarik napasnya dalam-dalam mencoba memikirkan kosakata yang baik untuk ia ucapkan, meski terlambat hujan begitu deras tiba-tiba saja turun, membuat keduanya bangkit dari tempatnya dengan tergesa-gesa dan menatap Sungjin dengan canggung.

“Lebih baik kita berteduh, Yuzuru,” ujar laki-laki itu sambil tertawa. Ya, menertawai kebodohannya.

Mengapa susah sekali?

Yuzuru menatap canggung Sungjin yang memapah sepedanya bersama mereka. Sampai saat ini ia tidak bisa menatap mata Sungjin sama seperti dahulu, sejak kejadian tadi dimana ia terjatuh di atas tubuh laki-laki itu.

Yuzuru memegangi kedua pipinya sekali lagi. Oh tidak, pipinya kembali terasa hangat. Sungjin tidak boleh melihat pipinya yang kembali bersemu merah untuk kesekian kalinya hanya karena laki-laki itu.

Sebenarnya ada apa dengannya?
Dan sebenarnya apa yang ingin dikatakan laki-laki itu tadi?

“Ah, kita sudah sampai.”

Yuzuru cepat-cepat menghentikan langkahnya saat ia baru menyadari ia hampir saja melewati rumahnya sendiri. Yuzuru yang canggung, memasuki pagar rumahnya tanpa mengatakan apa-apa bahkan saat Sungjin masih berada di depan menunggunya sekedar mengucapkan terima kasih. Mengerti ia sedang ditunggu, ia berbalik sejenak masih tanpa melihat Sungjin di luar pagar. Ia menarik napasnya dalam-dalam.

“T-terima kasih,” ujarnya susah payah. Sungjin yang salah tingkah lantas mengusap tengkuknya sebelum akhirnya ia berjalan menuju dorm, yang berada tepat di samping rumah gadis itu. Sedangkan Yuzuru masih berada di tempatnya, sibuk dengan rasa gugupnya yang tak kunjung hilang. Juga degup jantungnya yang masih saja tak berkawan dengannya. Dilihatnya Sungjin yang hendak meletakkan sepedanya ke dalam garasi saat ini.

Ayolah Yuzuru, katakan sesuatu, rutuknya dalam hati. Yuzuru kembali berusaha menarik napasnya dalam-dalam. Haruskah ia mengatakan bahwa ia mulai menyukai laki-laki itu?

Tidak. Ia kan perempuan, ia tidak boleh mengatakannya lebih dulu.

Ah, masa bodoh. Ia harus mengatakannya.

“Sungjin!” panggilnya yang berhasil membuat Sungjin menghentikan langkahnya demi melihatnya. Yuzuru menarik napasnya sekali lagi sebelum ia terlihat menggigit ujung bibirnya.

“Besok, jemput aku lagi ya?”

Bodoh! Mengapa malah kata-kata itu yang keluar?

Mengerti tidak ada jawaban dari laki-laki itu, Yuzuru sudah hendak masuk ke dalam rumah cepat-cepat karena malu. Ah, mungkinkah Sungjin menolak ajakannya kali ini? Mengapa ia begitu bodoh hari ini, sih?

“Tentu,” ujar laki-laki itu pada akhirnya dan berhasil membuat Yuzuru mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Sungjin mengembangkan senyumnya saat ini.

“Besok, aku antar ke kampus ya?”

.

.

.

At least, they have another day to say what they’ve been kept themselves these times.

.

.

.

—fin.

Advertisements

4 thoughts on “Words Hidden Away

  1. Halo kak/dek, boleh minta follback? 🙂 kebetulan aku nyasat ke blog ini. Belum aku buka-buka sih postinganmu soalnya masih sibuk mau ujian wkwk. Nanti kalau dah luang aku lihat-lihat blogmu yaa ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s