The Wall of Past

a848d7adf2f868ba8bdd819b143cbe26.jpg

Schwellenangst (noun) Fear of crossing a threshold to embark on something new.

“Sudah siap?”

Brittany mengangguk malu membuat pria yang ada di hadapannya tersenyum puas. Entah sudah berapa lama pria itu berada di luar, sedangkan Brittany sendiri tengah mempercantik diri di dalam kamar, padahal kini titik-titik salju mulai turun meski tak deras namun mampu memangkas beberapa derajat suhu malam ini.

Sore tadi, pria itu terburu-buru mengejar Brittany yang memang sepuluh menit lebih awal menyelesaikan pekerjaannya di stasiun bawah tanah, hanya untuk mengajaknya makan malam. Padahal pria itu sendiri tahu bahwa ia masih memiliki kepentingan yang harus ia bicarakan dengan rekan kerjanya.

Pria itu, William, tengah mengenakan setelan baju kasual yang sengaja ia balutkan dengan mantel bewarna senada. Membuatnya terlihat begitu tampan. Ah tidak, bagi Brittany, William memanglah pria paling tampan untuknya. Dan penting bagi dirinya jika William tak pernah mengetahui hal itu.

“Tunggu,” ujar Will, nama panggilan yang selama ini sering keluar dari bibir Brittany—membuat lamunan gadis itu buyar begitu saja.

Will melepaskan syal kebesaran yang mengalung di lehernya. Warna burgundy, salah satu warna Wil diam-diam sukai, namun Brittany mengetahuinya. Pria tampan itu lantas tersenyum saat dengan sengaja ia memandang manik biru milik Brittany—membuat si empunya lantas tertunduk malu.

“Malam ini begitu dingin. Kukira ada baiknya kau mengenakan ini di lehermu,” lanjut pria itu sembari ia menunjuk pada lehernya sendiri dengan kedua tangannya menggenggam erat syal.

“Oh.” Brittany baru saja tersadar setelah meraba lehernya yang telanjang. Bodoh, batinnya. Harusnya ia tadi mengenakan syal terlebih dahulu. Apalagi salju malam ini bisa saja turun dengan deras dan membuatnya beku dengan konyolnya.

“T-tunggu, aku akan—” Brittany yang hendak akan melangkahkan kakinya kembali ke dalam rumahnya lantas mengurungkan niat, sadar jika kini seseorang tengah menarik ujung mantelnya dengan lembut. Will, pelakunya.

“Tidak perlu. Kau bisa mengenakan milikku,” ujarnya cepat seakan mengerti apa yang dibutuhkan Brittany saat ini. Brittany yang pemalu hanya tersenyum tipis sebelum ia mengulurkan tangannya demi menyambut syal milik Will yang akan diberikan padanya, namun pria itu sekali lagi hanya memandangnya dengan senyum terbaik miliknya.

May I?” tanyanya begitu singkat, namun sarat penuh keraguan. Takut jika Brittany akan menolak seperti yang sering gadis itu lakukan sebelumnya setiap pria itu sebenarnya menawarkan diri untuk membantunya. Namun berbeda dengan biasanya, Brittany yang nyatanya terlihat berpikir dua kali lantas mengangguk pelan, membuat Will disambut bahagia yang membuncah saat ini. Ya, Brittany begitu mengetahuinya. Itu terlihat dari senyum Will yang kini semakin terkembang.

Dengan lembut, Will lantas mengalungkan syal burgundy tersebut pada leher Brittany yang sedari dari hanya menundukkan kepalanya—seakan enggan memandang manik milik Will dengan jarak yang begitu dekat. Hingga saat Will kini menjauhkan diri, barulah Brittany menghembuskan napasnya yang diam-diam ia tahan sedari tadi.

“Kalau begitu, ayo.”

“Kau suka makanannya tadi?”

Brittany menatap sebentar Will yang kini berjalan tepat di sampingnya. Wajahnya begitu berbinar, berbanding terbalik dengan malam yang begitu gelap hari ini. Butuh beberapa menit untuk Will menunggu sebelum akhirnya Brittany lantas mengangguk kecil membuat Will senang bukan main. Padahal hari ini mereka hanya makan pasta pada sebuah bistro tak jauh dari Madison Square, namun wajah Will begitu bahagia seakan baru saja memenangkan sebuah lotere.

Malam ini, Will sengaja mengajak Brittany untuk berjalan-jalan sebentar karena salju tiba-tiba saja berhenti padahal sebelumnya sempat turun lumayan deras. Sebenarnya Brittany tadinya ingin menolak, namun entah mengapa ia kehilangan kekuatannya hanya untuk sekedar menelengkan kepalanya.

Bukan, bukan karena Brittany tak menyukai saat Will mengajaknya makan malam, hanya saja….

Brittany menghentikan langkahnya, dilihatnya jalan di hadapannya yang begitu gelap akibat saluran listrik pada beberapa lampu jalan yang terputus akibat badai salju malam kemarin. Brittany takut gelap. Apalagi malam ini, orang-orang lebih memilih untuk berada di dalam rumah dan bergelung di dalam selimut mereka—yang membuat jalanan kini terlihat begitu sepi dan terkesan menyeramkan.

Bukan, Brittany tidak memiliki phobia terhadap gelap—yang akan membuatnya menangis, menjerit atau bahkan pingsan hanya karena gelap. Brittany hanya takut dengan segala kemungkinan apa yang tengah bersembunyi di sana. Sama seperti waktu itu. Yang seakan merenggut keberaniannya dalam sekali sentikan jari. Menciptakan memori bak mimpi buruk untuk Brittany sendiri, meski ia terjaga.

Hey.”

Brittany cepat-cepat menghapus air matanya yang entah sejak kapan membasahi salah satu sisi pipinya, meski terlambat Will sebenarnya sudah melihatnya lebih dulu. Mungkin jika ia menolak ajakan Will untuk berjalan-jalan sebentar, Brittany tak perlu repot-repot menyembunyikan tangisnya. Apalagi untuk melintasi jalan gelap dan menyeramkan di hadapannya.

Tanpa berkata-kata, Will hanya mengulurkan sebelah tangannya sebelum kini terlihat mengembangkan sudut bibirnya saat manik miliknya bertemu dengan manik biru milik Brittany. “Sudah aku bilang aku akan berusaha menjagamu,” ujarnya terdengar begitu lembut. Tanpa diberitahu pun Brittany sebenarnya tahu atas arti uluran tangan Will yang menunggu genggamannya.

Gadis itu terlihat memandang jalanan di hadapannya sebentar, menciptakan rasa campur aduk di dalam dirinya sebelum sepersekian sekon Brittany akhirnya menggenggam tangan William dengan begitu erat. William hanya mengulum senyum sebelum dengan lembut menarik genggaman Brittany dan menyimpannya ke dalam saku mantel. Brittany yang terkejut hanya terdiam tanpa banyak berkomentar.

Brittany yang masih merasakan rasa takut di dalam diri, lantas menahan napasnya sebelum ia lalu melangkahkan kakinya demi menyamai langkah Will di sampingnya. Will bahkan tersenyum saat Brittany kini menutup matanya sembari tanpa sadar meremas genggaman tangannya. Will kini sadar sebegitu besarnya rasa takut yang Brittany simpan diam-diam, sendiri.

Will mungkin tak pernah mengetahui apa yang terjadi pada Brittany beberapa tahun yang lalu. Yang membuat Brittany benar-benar menutup diri dari orang lain. Will ingat sangat dahulu tepatnya pertama kali ia bertemu dengan sosok Brittany. Brittany baginya adalah sosok begitu rumit. Bahkan Brittany adalah sosok yang menolak untuk bersalaman dengannya saat pertama kali mereka bertemu. Hal yang bahkan tak pernah gadis lain lakukan padanya.

Namun semenjak itu, Will bahkan sering menanyakan diri, mengapa ia masih tertarik pada sosok Brittany yang dingin. Sosok Brittany yang seakan begitu tertutup. Hingga sebuah kesimpulan lantas membuatnya tersadar atas rasa khawatir yang sering berkecamuk saat melihat Brittany yang penakut menaiki kereta api bawah tanah sendiri.

Apalagi kalau bukan cinta. Will yang sempurna, tanpa sadar jatuh cinta pada sosok Brittany.

“Kita sudah sampai,” ujar Will begitu lembut bahkan kini pria itu dengan sengaja mengeluarkan tangan mereka yang sebelumnya berada di dalam saku mantel miliknya. Membiarkan tangan Brittany kini yang lemas, lepas dengan sendirinya.

Brittany yang masih menutup mata lantas perlahan membuka matanya sembari mengucap beribu doa agar ia sampai di tempat yang dituju. Dan benar saja, kini mereka berada di Madison Squarehal yang sebenarnya tak pernah Brittany duga sebelumnya. Ia tak pernah mengira bahwa jalan tadi yang membawanya menuju Madison Square, tempat yang selama ini menjadi favorit dirinya juga Will dua tahun terakhir. Brittany menatap Will tak percaya, namun Will hanya mengangguk singkat dengan senyum terkembangnya.

“Masih ingat dengan tempat ini?” tanya Will kali ini sebelum akhirnya mereka duduk pada salah satu bangku taman yang berada di sana. Brittany hanya tersenyum tipis namun bibir kecilnya seakan tak ingin berkata-kata.

Ia masih ingat, bahkan sangat ingat. Saat itu, tepat dua tahun yang lalu, dimana Will mengajaknya untuk berjalan-jalan di Madison Square hanya untuk menikmati segelas kopi yang mereka beli tak jauh dari sana. Ya, setidaknya satu dari sekian percobaan yang sempat Will lakukan sebelumnya, membuahkan hasil. Karena sebelumnya, Will sempat mengajaknya untuk pergi namun Brittany menolaknya dengan berbagai alasan. Dan beruntungnya Brittany juga menyukai tempat tersebut. Hingga Madison Square menjadi satu-satunya tempat yang sering mereka kunjungi.

Dan tepat satu tahun yang lalu, William yang baru saja pulang dari kampung halamannya di London, mengajaknya untuk pergi ke Madison Square tiba-tiba. Ia bilang ia memiliki sesuatu untuk dikatakan dengan segera dan ia bilang ia tiba-tiba ingin minum kopi yang sering ia beli bersama. Padahal saat itu jelas Wiliam baru saja tiba dari London dan Brittany tahu jika pria itu sebenarnya begitu kelelahan. Brittany sempat ingin menolak, namun ia mengurungkan niatnya.

Semua berjalan dengan baik, hingga saat itu Will tiba-tiba bersujud dengan sebuah kotak berukuran kecil dengan cincin di dalamnya. Benar, Will melamar Brittany. Hal yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh Brittany sebelumnya.

Mereka hanya berteman, setidaknya itu yang selalu Brittany ingatkan pada hatinya. Will adalah satu-satunya teman pria yang Brittany miliki. Will yang selalu ada untuknya dan Will yang selalu menemaninya dimanapun. Namun mendengar pernyataan Will yang terlalu mendadak, membuat Brittany sendiri tak siap. Jadilah saat itu Brittany tak menjawab, menciptakan guratan kesedihan yang begitu terlihat di wajah Will saat itu.

Will terlalu baik untuknya. Namun dunia mereka seakan jauh berbeda. Mereka tinggal di dunia yang berbeda.

Ia masih belum siap untuk terlalu intim dengan pria lain—pria manapun. Membiarkan mereka menyentuhnya dan memberikan celah bagi mereka untuk menyakitinya, lagi. Cukup membekas di ingatan akan masa kecilnya yang begitu kelam. Ia masih ingat bagaimana rasanya saat sabuk kulit ayah tirinya dihempaskan begitu saja di tubuh mungilnya tiap malam. Ia masih ingat dengan begitu bejatnya pria yang harusnya jadi sosok pelindung dirinya merebut mahkotanya.

Ia benci ayah tirinya, yang membuat ia juga begitu membenci gelap malam. Ia benci ingatannya yang seakan datang tiap ia menutup mata. Ia benci pria itu sebagaimana ia membenci pria manapun yang berada di sekitarnya. Ia benci mengatakan bahwa ia begitu penakut pada pria manapun, hingga membuatnya bersembunyi sampai hari ini.

Tidak. Jangan ingatan itu lagi yang harus datang dengan sialan hari ini.

“Kau baik-baik saja?”

William memperhatikan tiap jengkal wajah Brittany dengan begitu khawatir saat ia sadar dengan wajah Brittany yang memucat. Jangan lupakan air mata Brittany yang turun dengan derasnya dan bibirnya yang bergetar. Tubuhnya terguncang hebat, membuat Brittany sendiri tak dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Beruntung Will sudah lebih cepat menahan tubuh Brittany agak tidak terjatuh.

“Maafkan aku. Aku harusnya mengajakmu pulang,” ujarnya begitu khawatir. bahkan lengannya yang kokoh masih setia menahan tubuh Brittany. Sama seperti sebelumnya, saat rasa takut berlebihan mulai menyerangnya, William selalu berada di sampingnya–menjaganya tanpa pamrih.

“Aku akan menghubungi seorang teman untuk menjemput kita.” Wajah will begitu gusar, bahkan genggaman tangannya pun terasa begitu dingin. Will juga merasa ketakutan, sama halnya dengan dirinya. Namun Will berusaha untuk tetap kuat.

Tidak.

Brittany tidak ingin selalu terjebak dengan rasa takut yang bertahun-tahun mengurungnya tanpa henti. William berbeda. William akan menjaganya. Dan William bukanlah ayah tirinya yang kini telah menghabiskan sisa umurnya di balik jeruji–akibat perbuatan kejinya selama ini.

William yang hendak beranjak dari bangku dimana mereka duduki saat ini demi menghubungi seseorang, lantas mengurungkan niatnya saat Brittany menggenggam tangannya begitu erat. Perlahan namun pasti, kini tangis Brittany mereda. Kiranya rasa takutnya menguap ikut bersama dengan tangisnya. Will yang awalnya semakin khawatir, setidaknya perlahan namun pasti mengerti akan arti genggaman tangan Brittany saat ini. Jadilah ia memutuskan untuk tetap duduk dan menunggu.

“Aku tidak membutuhkan hal lain, Will.” ujar Brittany yang mampu memecah hening. Will terdiam, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu yang sengaja ia gantung.

“Aku tidak membutuhkan yang lainnya. Selama aku tahu kau ada di sini untuk menggenggam tanganku. Aku tidak perlu merasa takut lagi,” lanjutnya begitu lembut sembari mengembangkan senyumnya saat Will kini balik menggenggam tangan Brittany tak kalah eratnya.

“Maka dari itu, sudah aku putuskan–bahwa ya, aku butuh kau di sampingku. Aku ingin menjalani sisa umurku denganmu, Will,” ujar Brittany masih dengan menunjukkan senyum terbaiknya saat Will memandangnya bingung. Setidaknya butuh beberapa menit untuk Will mencerna kalimat, hingga saat Will mulai balas tersenyum dan sedetik kemudian ia lantas meraih tubuh Brittany dan memeluknya.

.

.

.

Mungkin Brittany tidak pernah tahu bagaimana hidup akan membawanya. Namun ada satu hal yang perlu ia tahu, bahwa ia sudah berani untuk melangkah keluar dari zona amannya untuk memulai hidupnya yang baru. Selama Will masih menggenggam erat tangannya, tidak ada yang perlu ia takutkan lagi dalam hidupnya.

.

.

fin.

Advertisements

3 thoughts on “The Wall of Past

  1. KAK TSARA AKU MAU MARAH, ini manis banget dong woi???? ketakutan brittany kerasa banget, dan jadi masuk akal waktu alesannya di-reveal. gila sih emang, aku kalo jadi dia juga bakal trauma seumur hidup kali ya 😦 HEU SEDIH. untung ada william the knight in shining armor yang supergigih deketin brittany ❤️❤️❤️ terus terus, aku cinta masa kak sama headernya. aku pribadi juga suka banget pasang header cowok-cewek lagi ngeliat langit dan city lights, apalagi kayak dari rooftop gitu 😆 hahahahah.

    buat koreksian, aku ada beberapa nih kak:
    * Padahal hari ini mereka hanya makan pasta pada sebuah bistro tak jauh dari Madison Square, namun wajah Will begitu bahagia seakan ia baru saja memenangkan sebuah lottery. — “pasta” itu ada di kbbi kak kalo ga salah, jadi sepertinya ga perlu dicetak miring. “square” juga kayaknya ga usah dimiringin walaupun kata asing, karena dia di sini sebagai nama tempat. kalo aku baca di novel-novel sih biasanya nama tempat kayak central park gitu ga dimiringin tulisannya, hehe. naaah terus buat “lottery”, bahasa indonesia bakunya di kbbi itu lotere, cuma kalo kak tsara mau pake bahasa inggris jadi lottery juga ga apa-apa 🙂
    * Bukan, bukan karena Brittany tak menyukai saat Will mengajaknya makan malam, hanya saja.. — kalo mau pake titik-titik di akhir kalimat gini setau aku jumlah titiknya empat kak. tiga sebagai elipsis, satu lagi titik biasa. kak tsara bisa baca di https://dosenbahasa.com/pengertian-tanda-elipsis-dan-contohnya.
    * Yang seakan merengut keberaniannya dalam sekali sentikan jari. — merengut itu artinya lebih ke cemberut gitu bukan sih kak? mungkin maksud kak tsara di sini merenggut yaaa, hehe.
    * “Aku tidak membutuhkan hal lain, Will.” ujar Brittany yang mampu memecah hening. — sebelum tanda petik buat nutup kalimat harusnya koma, bukan titik. ini sih fix kak tsara typo, hahahah 😆

    koreksiannya sama sekali ga memengaruhi tulisan kakak kok, tetep cakeeeppp dan feelingnya dapet! ❤️ semoga kak tsara berkenan sama komentar aku ya kak, please do correct me if im wrong. makasih banyakkkkk kak udah ikut event abal-abalku inihhh :”) maaf banget juga nih baru sempet mampir. aku seneng banget bisa kenalan sama kak tsara dan bacain tulisan kakak ❤️❤️❤️

    izin reblog yaaa kak :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s