[Journal] Memilih atau Dipilih?

tumblr_obdz18Sh4i1uwzs06o1_500

The story was randomize, came out from one of my friends.

Memilih atau Dipilih?

Pernahkah kalian mendengar seorang pepatah mengatakan bahwa kaum laki-laki berhak memilih sedangkan kaum perempuan tidak berhak, namun merekalah yang akan dipilih? Sungguh, aku sebenarnya tidak menyukai pepatah itu yang seakan membuat kami—kaum perempuan tak memiliki hak untuk membuat sebuah pilihan. Maksudku, pilihan untuk mencari pasangan hidup, adalah sebuah hal yang krusial dan kaum kami tidak memiliki hak untuk memilih?

It doesn’t make senses.

Namun bukan itu yang kini akan aku sampaikan. Aku tidak ingin menyalahkan pepatah yang mengatakan hal tersebut ataupun siapapun yang dengan gamblang menyatakan mereka setuju dengan pepatah tersebut.

Tidak, bukan itu.

Sebut saja bahwa kini aku berada di posisi tersebut. Sebut saja, aku berada dalam posisi dimana aku bukan menunggu seseorang untuk memilih, namun aku berada dalam posisi dimana aku harus memilih. Maksudku, ya, aku memang harus memilih.

Sebelumnya, tidak ada satu di antara cerita ini yang membuatku berdiri arogan atas apa yang terjadi, namun aku hanya ingin menyampaikan dari sekian keraguan yang selama ini aku pendam. Jika satu di antara kalian mengatakan bahwa aku begitu beruntung, aku sangat berterima kasih akan hal itu. Namun sungguh, tak bisa aku menyebutkan diriku ini beruntung. Maksudku, benar, posisiku sepenuhnya tak bisa kau sebut beruntung.

Terdapat tiga laki-laki yang tak bisa kusebut namanya, berdiri seakan menunggu genggaman tanganku. Tiga laki-laki yang begitu baik dan begitu perhatian. Sungguh, jika harus kutuliskan berapa kebaikan mereka yang telah mereka lakukan padaku, mungkin ini akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Mereka baik bahkan sangat baik, hingga aku tak ingat apakah aku sudah cukup membalas kebaikan mereka.

Terkadang aku tak mengerti mengapa mereka, laki-laki terlampau baik, memilih gadis sederhana sepertiku. Aku juga tak mengerti apa yang mereka harapkan dariku. Padahal jelas, aku pernah menyakiti mereka dan meninggalkan mereka dengan sengaja, namun begitu keras kepalanya mereka tetap sudi menungguku.

Entah apa yang membuat mereka datang dan membuat mereka sudi berdiri demi menungguku. Banyak yang mengatakan bahwa aku yang dengan sengaja membiarkan mereka masuk. Sengaja membuat mereka memiliki kesempatan yang sama. Dan mereka bilang akulah yang membuat mereka berharap. Jika kau juga salah seorang yang mengarahkan jari telunjuknya padaku saat ini, kutegaskan kepadamu teman bahwa aku tak bisa kau sebut sepenuhnya salah.

Apakah kau pernah berpikir bahwa sebuah pertemanan adalah sebuah kesalahan? Tidak, bukan? Maka itulah adalah satu-satunya dasar yang selama ini kau sebut sebagai penyebab mereka kini menungguku. Tak ada dasar lain, sungguh. Bagiku semua adalah teman. Bagiku mereka adalah sosok kakak yang begitu baik padaku. Meski aku tahu bahwa mereka tak menganggap demikian. Meski kutahu pertemanan yang kujalankan sepihak ini, nyatanya membuat mereka salah mengartikannya—membuat mereka kini berharap lebih terhadapku.

Banyak mengatakan bahwa aku harus tegas untuk menentukan sebuah pilihan. Banyak yang mengatakan bahwa aku harus menentukam pilihan dan melepaskan mereka yang bahkan tangannya pun tak pernah tergenggam olehku. Namun perlu kutegaskan sekali lagi aku tak akan pernah bisa.

Mereka sangat baik bahkan sangat baik padaku. Aku tak bisa menentukan satu pilihan yang mana akan menyakiti dua yang lainnya. Terserah bagaimana kalian akan menilaiku. Namun sungguh, aku berada diposisi dimana aku sendiri tak bisa memilih.

Aku tidak memilih bukan karena aku tak ingin. Aku tidak memilih bukan karena aku tak memiliki pilihan yang tepat. Aku tidak memilih bukan berarti mereka tidak baik. Namun sungguh, hanya diriku yang ingin memberikan sedikit ruang pada diriku sendiri untuk sementara waktu. Aku hanya ingin memberikan waktu untukku sendiri. Aku masih belum siap untuk menjalin sebuah hubungan baru. Aku hanya ingin sendiri —untuk sementara waktu.

Entah siapa yang menyebut namaku pada tiap doa yang ia panjatkan. Entah seberapa kali namaku terlintas di benak mereka saat mereka terjaga. Dan entah siapa yang paling membutuhkan keberadaanku saat ini, namun ada satu hal yang aku harapkan;

Kumohon jangan berhenti.

Aku tahu ini terdengar begitu egois, namun yakinlah ada sebuah masa dimana aku benar-benar akan menentukan pilihan. Entah kapan saat itu akan datang. Dan jika masa itu benar-benar datang, atas keputusan apapun yang aku buat dan apapun yang akan akan terjadi,

Kumohon jangan pernah membenciku. Dan maafkan aku dan keraguanku selama ini. Kuharap kau sabar menungguku.

January 19, 2018

05:15

Anonymous.

Advertisements

2 thoughts on “[Journal] Memilih atau Dipilih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s